Rabu, 09 Februari 2011

Paradigma Pendidikan Islam dan Pengembangannya

Seluruh proses hdup dan kehidupan manusia adalah proses pendidikan maka Hendaknya Pendidikan Agama Islam mampu mengembangkan pandangan hidup yang islami, yang tercermin dalam sikap dan keterampilan hidup seorang muslim sejati, karena sesuai dengan pandangan bahwa life is education and education is life . Untuk itu perlu dipahami mengenai aspek-aspek kehidupan itu sendiri, diantaranya:

  1. Paradigma Formisme,

Yaitu cara pandang sederhana yang memandang kepada perbedaan atau dikotomi atau distrit.

Karena paradigma ini maka terjadi dikotomi dan pemisahan antara sekolah umum dengan sekolah agama, antara swata dan negeri, antara dunia dan akhirat, sehingga dapat menimbulkan cara pandang yang sempit dan tidak akan mencapai suatu kemajuan yang berarti. Hendaknya Pendidikan agama Islam tidak melakukan paradigma dikotomi, sehingga pendidikan Agama Islam dapat menjangkau seluruh aspek kehidupan manusia dan menyenagkan

  1. Paradigma mekanisme

Paradigma ini memandang kehidupan terdiri atas berbagai aspek, dan pendidikan dipandang sebagai penanaman dan pengembangan seperangkat nilai kehidupan, yang terdiri atas nilai agama, nilai individu, nilai sosial, nilai politik, nilai ekonomi, nilai rasional dan sebagainya.sebagai impliksinya, pengembangan pendidikan Islam tersebut bergantung pada kemauan, kemampuan, dan political-will dari para pembinanya dan sekaligus pimpinan dari lembaga tersebut. Terutama dlam membangun kerjasama dengan mata pelajaran/kuliah lain. Hubungan antara pendidikan agama dengan beberapa matapelajaran dapat bersifat horisontal lateral (Indipendent), lateral-sekuensial, atau bahkan vertikal linear.

  1. Padigma organisme

Paradigma ini memandang bahwa Islam merupakan kesatuan sistem (yang terdiri atas berbagai komponen) yang berusaha mengembangkan pandangan/semangat hidup (weltanschanauung) Islam, yang dima nifestasikan pada sikap hidup dan keterampilan hidup yang Islami. Melalui upaya ini maka sistem pendidikan Islam diharapkan dapat diintegrasikan nilai-nilai Ilmu pengetahuan, ilmu agama dan etik, serta mampu melahirkan manusia-manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memilki pematangan profesional, dan sekaligus hidup dalam nilai-nilai agama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar