Sumbang Duo Baleh
Sumbang Duo Baleh
Sumbang Duo
Baleh merupakan suatu konsep tradisi yang mengatur etika/ perilaku/ moral
masyarakat khususnya kaum wanita dalam budaya Minangkabau, Sumatera Barat.
Secara bahasa, "Sumbang" berarti salah/ keliru/ tidak tepat,
sedangkan "Duo Baleh" berarti dua belas. “Sumbang Duo Baleh” merujuk
pada dua belas jenis kesalahan atau tindakan yang dianggap tidak pantas serta
melanggar norma adat Minangkabau, terutama bagi kaum perempuan Minangkabau
Konsep ini
lebih dari sekadar daftar larangan; ini adalah panduan menyeluruh yang
membentuk karakter, sikap, dan martabat seorang perempuan Minangkabau.
Tujuannya adalah untuk melindungi kesopanan, martabat individu, dan reputasi
keluarga serta kelompok (klan). “Sumbang Duo Baleh” mengajarkan mengenai cara
seorang wanita seharusnya bersikap, berbicara, berjalan, berpakaian, dan
berinteraksi dalam keseharian, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat umum.
Penerapan “Sumbang
Duo Baleh” sangat ditekankan sejak awal dalam pendidikan gadis-gadis
Minangkabau. Nilai-nilai ini disampaikan melalui tradisi lisan, petuah orang
tua dan niniak mamak (pemuka adat), serta melalui contoh teladan dalam
berperilaku dalam kehidupan bermasyarakat. Pelanggaran terhadap salah satu dari
dua belas norma ini dapat berakibat pada teguran sosial, rasa malu, bahkan
sanksi adat tertentu, tergantung pada tingkat Kesalahannya.
Adapun tujuan utama
dari penerapan “Sumbang Duo Baleh” dalam budaya Minangkabau adalah untuk
membentuk dan menjaga martabat, kehormatan, serta budi pekerti luhur perempuan
Minangkabau. Konsep ini berfungsi sebagai pedoman etika dan tata krama yang
komprehensif, khususnya bagi kaum perempuan.
Adapun
secara khusus tujuan “sumbang Duo Baleh” antara lain:
1.
Menjaga
kehormatan pribadi perempuan dan, secara lebih luas, nama baik keluarga serta
kaumnya. Dalam masyarakat matrilineal Minangkabau, perempuan memegang peranan
sentral sebagai pewaris garis keturunan dan pengelola harta pusaka. Oleh karena
itu, perilaku perempuan sangat mencerminkan harga diri suatu kaum. Jika seorang
perempuan berbuat "sumbang", bukan hanya dirinya yang menanggung
malu, tetapi seluruh keluarga dan kaumnya juga akan tercoreng.
2.
Pembentuk
karakter untuk mewujudkan sosok "Bundo Kanduang", yaitu idealisasi
perempuan Minangkabau yang bijaksana, berakhlak mulia, anggun, dan menjadi
panutan. Bundo Kanduang diharapkan menjadi "limpapeh rumah nan
gadang" (tiang utama rumah gadang) yang menjaga keharmonisan keluarga dan
adat. Aturan-aturan dalam “Sumbang Duo Baleh” membantu perempuan Minang untuk
memiliki sikap, tutur kata, dan tingkah laku yang sopan, santun, dan sesuai
norma.
3.
Memelihara
dan mengintegrasikan nilai-nilai adat dengan ajaran agama Islam. Ia mengajarkan
tentang pentingnya menjaga aurat, batasan dalam pergaulan, etika berbicara, dan
sikap rendah hati, yang selaras dengan prinsip-prinsip Islam. Dengan demikian,
tujuan “Sumbang Duo Baleh” juga untuk melestarikan nilai-nilai budaya yang
dijiwai oleh spiritualitas dan moralitas.
4.
Menciptakan
ketertiban dan keharmonisan dalam masyarakat. Perempuan yang berperilaku sesuai
adat akan dihormati dan dipandang baik, sehingga mencegah timbulnya gosip,
fitnah, atau konflik sosial akibat perilaku yang tidak pantas.
5.
Mempersiapkan
perempuan Minangkabau agar mereka agar memiliki adab dan sopan santun yang
kuat, sehingga mampu mewariskan nilai-nilai luhur ini kepada generasi
berikutnya. Dengan memahami dan menghayati sumbang ini, perempuan Minang dapat
menjadi teladan bagi anak-anak mereka dalam berperilaku di masyarakat.
Secara
keseluruhan, “Sumbang Duo Baleh” bertujuan untuk membimbing perempuan
Minangkabau agar selalu berhati-hati dalam setiap aspek kehidupannya, menjaga
kehormatan diri dan kaum, serta menjadi pribadi yang beradab dan bermartabat
sesuai dengan ajaran adat dan agama.
Walaupun
tampak membatasi perilaku gadis Minangkabau,namun “Sumbang Duo Baleh”
sesungguhnya berperan sebagai sarana perlindungan dan pembentuk identitas
wanita Minangkabau yang beradab dan memiliki martabat. Ia mencerminkan
prinsip-prinsip mulia seperti kesopanan, kerendahan hati, ke hati-hatian, serta
penghormatan terhadap sesama. Dalam konteks kontemporer, pengertian dan
pengalaman “Sumbang Duo Baleh” tetap penting sebagai dasar moral dan etika
dalam mempertahankan keberlangsungan adat dan budaya Minangkabau di tengah
gelombang globalisasi.
Adapun yang
termasuk dalam “Sumbang Duo Baleh”, antara lain:
1.
Sumbang
Pakai.
Pakaian
haruslah sopan, bersih dan rapih. Jangan memakai pakaian yang jarang dan ketat,
apalagi sampai mencetak lekuk tubuh. Kenakanlah pakaian yang pas dengan fungsi
masing masing, pakaian ke pasar tentu beda dengan pakaian untuk beribadah.
Babaju jan
sampik-sampik, nak jan nampak rasio tubuah, dima bukik dima lurahnyo, dima
taluak tanjuang baliku jadi tontonan laki-laki, usah pulo talampau jarang, nan
tipih nan tabuak pandang, konon tasimbah ateh bawah. Satantang mode jo
potongan, sasuaikan jo bantuak tubuah, sarasikan jo rono kulik, sarato mukasuik
ka di tuju, buliah nak sajuak dipandang mato.
[
Berbaju janganlah yang ketat, dan jangan menampilkan seluruh lekuk-lekuknya.
Dimana setiap lekuk tubuh menjadi tontonan lelaki. Jangan terlalu trasnparan,
tipis dan tembus pandang. yang terbuka atas bawahnya. Untuk mode dan gayanya,
sesuaikan dengan bentuk tubuh, sesuaikan dengan warna kulit , serta sesuaikan
dengan tujuan acaranya, agar sejuk dipandang mata.]
2.
Sumbang
Duduak.
Adat
kebiasaan mengatur bahwa duduk yang paling pantas bagi perempuan adalah
bersimpuh. Tidak boleh bersila seperti lelaki, tidak boleh mengangkat kaki,
berjongkok. Duduk di kursi pun haruslah menyamping dan merapatkan paha. Apabila
berboncengan tidak boleh mengangkang, harus menyamping.
Duduak sopan
bagi padusi iolah basimpuah, bukan baselo co laki-laki, apo lai mancangkuang,
batagak lutuik. Nyampang duduak di kurisi, bae manyampiang, rapekan pao
arek-arek. Jikok bagonceang, usah mangkangkang abih-abih, manjajokan dicaliak
urang.
[
Duduk sopan bagi perempuan adalah bersimpuh, bukan bersila seperti laki-laki,
apalagi duduk jongkok, berdiri berlutut. Kalau sedang duduk, hendaklah
menyamping, rapatkan juga duduknya. Saat berboncengan, usahakan jangan mengangkang,
tidak nyaman dipandang orang lain. ]
3.
Sumbang Tagak.
Saat
berdiripun, perempuan diatur untuk berdiri dengan sopan, tidak berkacak
pinggang. Dilarang berdiri di tangga ataupun di depan pintu. Dilarang untuk
berdiri di pinggir jalan jika tidak ada yang dinanti, dan tentunya dilarang
berdiri berdua dengan yang bukan muhrim.
Usah panagak
tantang pintu atau janjang turun naiak. Ijan panagak ditapi labuah kalau ndak
ado nan dinanti. Sumbang tagak jo laki-laki apo lai bukan muhrim, kunun lai
barundiang-rundiang.
[
Jangan tegak di depan pintu atau tangga tempat orang turun naik. Usahakan
jangan berdiri di tepi jalan kalau tidak ada yang dinanti. Tidak baik berdiri
bersama laki-laki yang bukan muhrimnya, apalagi kumpul-kumpul nimbrung bersama
]
4.
Sumbang
Jalan.
Ketika
berjalan, perempuan haruslah berkawan, tidak boleh tergesa-gesa namun harus
tetap hati-hati. Diumpamakan bahwa semut yang terinjak bahkan tidak mati.
Demikian saking hati-hatinya.
Bajalan musti
bakawan, paliang kurang jo paja ketek. Usah bajalan bagageh-gageh, malasau,
mandongkak-dongkak Bajalanlah bak siaganjua lalai, pado pai suruik nan labiah.
Alu tataruang pantangnyo patah, samuik tapijak indak nan mati. jikok bajalan jo
laki-laki, malangkahlah di balakang. Usah maampang jalan waktu bajalan sasamo
gadang.
[
Berjalan hendaknya berkawan, setidaknya ada kawan anak kecil. Hindari jalan
tergesa-gesa, melenggak-lenggok. Berjalanlah dengan tenang dan pelan. Jika
berjalan dengan laki-laki, hendaknya berjalan di belakang. Jangan berjalan
menutupi jalan, saat berjalan bersama kawan-kawan. ]
5.
Sumbang
Kato.
Berkata
haruslah dengan sopan dan memiliki tujuan, haruslah mengerti kato nan
ampek. Ia harus tahu dengan siapa ia berkata-kata. Dilarang untuk memotong
pembicaraan orang lain, berkata dengan terlalu kegirangan.
Bakatolah jo
lamah lambuik. Duduakan hetong ciek-ciek nak paham mukasuiknyo. Ijan barundiang
bak murai batu, bak aia sarasah tajun. Jan menyolang kato rang tuo, dangakan
dulu sudah-sudah. Jan manyabuik kumuah wakatu makan, manyabuik mati dakek
sisakik. Kurang elok, indak tapuji maminta utang di nan rami.
[
Berkatalah dengan lemah lembut. Dudukkanlah satu-satu agar paham
maksudnya.Jangan berunding seperti burung murai batu, rame seperti air terjun.
Jangan menyela saat orang tua berbicara, dengarkan dulu sampai tuntas. Jangan
berbicara hal yang kotor dan jorok saat sedang makan, membicarakan kematian di
dekat orang sakit. Tidak baik, dan tidak terpuji menagih hutang di tengah
keramaian . ]
6.
Sumbang
Caliak.
Perempuan
yang telah gadih (gadis) dilarang untuk bersitatap dengan lelaki yang
bukan muhrimnya, ia haruslah menundukkan dan menjaga pandangannya. Saat
ada tamu, sebisa mungkin untuk tidak melihat jam terlalu sering. Karena
dianggap tengah mengusir tamu secara halus.
Kurang taratik
urang padusi, pamana pancaliak jauah, pamadok arah balakang, pamatuik diri
surang. Nyampang pai ka rumah urang, pajinak incek mato, jan malanja sapanjang
rumah. Usah pancaliak jam, wakatu ado tamu. Ijan panantang mato rang jantan,
aliahan pandangan ka nan lain, manakua caliak ka bawah.
[
kurang baik perempuan melamun , membelakangi , dan termenung sendirian.
Saat pergi ke rumah orang lain, jinakkanlah pandangan mata, jangan terlalu
melihat-lihat ke seluruh rumah. Usahakan tidak melihat jam saat ada orang
bertamu. Jangan memandang menantang tatapan mata lelaki, alihkan ke arah lain,
atau menunduk ke bawah. ]
7.
Sumbang
Makan.
Makanlah
secukupnya, makan pelan-pelan. Dilarang makan sambil berdiri apalagi berjalan.
Sebisa mungkin tidak berbicara saat makan kecuali sangat penting. Jangan
berbunyi saat makan atau istilah 'rang awak-nya
disebut "mancapak".
Usah makan
sambia tagak, kunyah kenyoh sapanjang jalan. Nyampang makan jo tangan, ganggam
nasi jo ujuang jari, bao ka ateh lambek-lambek, usah mangango gadang-gadang.
Nyampang makan jo sendok, agak-agak malah dahulu, nak jan balago sendok jo
gigi. Ingek-ingek dalam batambuh, kana-kana manyudahi.
[
Jangan makan sambil berdiri, makan sambil berjalan. Saat makan dengan tangan, genggam
nasi dengan ujung jari, ambil pelan-pelan, hindari membuka mulut terlalu lebar.
Saat makan dengan sendok, takarlah baik-baik, hindari beradu antara gigi dan
sendok. Ukurlah saat mau menambah, teringatlah untuk menyudahi. ]
8.
Sumbang
Karajo.
Idealnya
pekerjaan perempuan adalah pekerjaan yang ringan dan mudah. Pekerjaan kasar dan
berat hendaknya diserahkan kepada kaum lelaki, ataupun dimintakan tolong kepada
laki-laki yang ada.
Kakok karajo
rang padusi iolah nan ringan jo nan alui, sarato indak rumik-rumik. Cando
padusi mambajak sawah, manabang, jo mamanjek. Jikok ka kantua, nan rancak iyo
jadi guru.
[
Bagian kerja perempuan adalah yang ringan dan halus, dan yang tidak
rumit-rumit. Hal yang agak kurang pas adalah membajak sawah, menebang pohon, atau
memanjat pohon. Saat ke kantor sebaiknya berprofesi sebagai guru .]
9.
Sumbang
Tanyo.
Dalam
bertanya, dengarlah terlebih dahulu penjelasan orang lain, barulah bertanya
dengan sopan. Maksudnya sopan adalah tidak menguji apalagi merendahkan orang
lain.
Barundiang
sasudah makan, batanyo salapeh arak. Sangeklah cando, tanyo tibo ikua di ateh.
kasa Usah batanyo di indak mambali. Nyampang tasasek karantau urang ijan
batanyo bakandak-kandak. Buruak muncuang dijawek urang, cilako juo
kasudahannyo. Simak dulu dalam-dalam, baru tanyo jaleh-jaleh.
[
Berunding sesudah makan, bertanya selepas itu. Sangatlah tidak sopan, selesai
bertanya justru membalik dengan kasar. Jangan bertanya jika tidak membeli. Saat
tersesat di rantau orang jangan bertanya sekehendak hati. Jelek perkataan
saat dijawab orang. celaka nanti kesudahannya. Simak dalam-dalam , baru
bertanya dengan jelas.]
10.
Sumbang
Jawek.
Begitu
juga ketika ditanyai, jawablah dengan seperlunya dan tepat. Jangan menjawab
sekenanya, sehingga orang harus bertanya berulang-ulang karena semakin bingung.
Jawablah hal yang perlu perlu saja, yang tidak perlu tidak usah dijawab.
Jaweklah tanyo
elok-elok, usah mangandang mamburansang. Jan asa tanyo bajawek, kunun kok lai
bakulilik.
[
Jawablah pertanyaan dengan baik-baik, hindari yang membuat orang lain
tersinggung. Jangan setiap pertanyaan langsung dijawab, khawatirnya justru
mempersulit nantinya. ]
11.
Sumbang
Bagaua.
Pergaulan
perempuan dewasa minang haruslah terjaga. Ia tidak boleh bergaul terlalu dekat
dengan bukan muhrimnya apalagi berjalan berduaan. Selain itu akan terlihat
sumbang bila perempuan dewasa bergaul dengan anak kecil, apalagi ikut permainan
mereka.
Usah bagaua jo
laki-laki kalau awak surang padusi. Jan bagaua jo paja ketek, main kalereang jo
sepak tekong, kunun kok lai semba lakon. Paliharo lidah dalam bagaua,
iklas-iklas dalam manolong, nak sanang kawan ka awak.
[
Jangan bergurau dengan laki-laki saat perempuan sendirian. Jangan bergurau
berkelebihan dengan anak kecil, main kelereng, dan sepak takraw. Peliharalah
lidah saat bergurau, ikhlas dalam menoilong, agar senang kawan kepada kita. ]
12.
Sumbang
Kurenah.
Dalam
bertingkah laku sehari-hari haruslah tetap bisa menjaga perasaan orang lain.
Jangan berkata berbisik bisik, menutup hidung dalam keramaian, tertawa
terbahak-bahak dan sejenisnya. Jaga lisan dari hal yang akan menyinggung banyak
orang.
Kurang patuik,
indaklah elok babisiak sadang basamo. Usah manutuik hiduang di nan rami, urang
jatuah awak tagalak, galak gadang nan bakarikiakan. Bueklah garah nan
sakadarnyo, buliah ndak tasingguang urang mandanga. Jikok mambali durian, usah
kuliknyo ka laman urang. Paliharo diri dari talunjuak luruih kalingkiang
bakaik, nan bak musang babulu ayam.
[
Kurang patut , tidaklah elok berbisik-bisik saat sedang bersama orang lain.
jangan menutup hidung di tempat ramai, saat ada orang terjatuh jangan
ditertawakan, tertawa terbahak-bahak dan cekikikan. Buatlah bercanda sekedarnya
saja. Agar orang tidak tersinggung orang yang mendengar. Jika membeli durian,
jangan kulitnya dibuang ke halaman orang. Peliharalah diri agar tidak bersifat
munafik.]
Meskipun
sifatnya tertulis, tapi kontrol dari masyarakat sangat efektif dalam
pengaplikasian Sumbang Duo Baleh oleh kaum perempuan, khususnya di
Ranah Minang. Karena hukumannya adalah rasa malu, tak hanya bagi dirinya, juga
pada keluarganya.
Komentar
Posting Komentar